ndas.jpg
BADAN DIKLAT PROVINSI JAWA TENGAH - Jl. Setiabudi 201 A Semarang
samping.jpg
Tahun 2014
Tahun 2013
Tahun 2012
  Diklat Lainnya »
Alur Pelayanan Memperjelas Proses Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) - Ikbal Khafid, S.IP, M.Si
Kedaulatan dan Ketahanan Pangan Dalam Perspektif Otonomi Daerah - Sudirman Mustafa, SH, M.Hum
LHKPN Merupakan Pelajaran Awal Menangkal Korupsi - Didik Singgih Hadi, SE, M.Si
Mengantar Pemimpin Perubahan Berkelas Dunia - Drs. Yusuf Subagyo, M.Si
Menumbuhkan Enterpreneurship Organisasi - Sutardi, S.Pi
  Artikel Lainnya »
RUP Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah 2014
Pengumuman Pemenang Lelang Sederhana Pengadaan Konsumsi Bagi Kegiatan Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan LIV - LVII (4 Angkatan) dan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan LIV - LVII (4 Angkatan)Tahun 2013
Pengumuman Pelelangan Sederhana Dengan Pascakualifikasi Pengadaan Konsumsi Bagi Kegiatan Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan LIV - LVII (4 Angkatan) dan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan LIV - LVII (4 Angkatan) Tahun 2013
Pengumuman Pemenang Lelang Umum Renovasi Asrama Sumbing I Gedung Pendidikan Sumbing
Pengumuman Pemenang Lelang Sederhana Pengadaan Jasa Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi pada Kegiatan Observasi Lapangan (OL) Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan LII Tahun 2013
  Info Lelang Lainnya »
 
 
  Home / News -
 
Pembukaan Diklat Fungsional Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai Bagi Penyuluh Pertanian
 
 
Selasa, 05 Maret 2013 03:36:00

 
 

Semarang. Kepala Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Bidang Diklat Fungsional – Drs. Supriyanto MW membuka secara resmi Diklat Fungsional Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai Bagi Penyuluh Pertanian dalam sebuah Upacara Pembukaan yang digelar di Aula Kampus Diklat Sumbing.

Dalam acara yang diselenggarakan pada hari Selasa, tanggal 5 Maret 2013 tersebut, Kepala Badan Diklat menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh Drs. Supriyanto MW sebagai berikut bahwa Kebutuhan akan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk. Dalam kurun waktu lima tahun (tahun 2010-2014) kebutuhan kedelai setiap tahunnya ± 2.300.000 ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sebanyak 851.286 ton atau 37,01 % dari kebutuhan kedelai (Sumber: Biro Pusat Statistik).

 Sehingga untuk memenuhi kekurangan kebutuhan tersebut harus dipenuhi dari impor. Adanya impor tersebut akan menyebabkan berbagai kerugian bagi Indonesia antara lain: a) hilangnya devisa negara yang cukup besar, b) mengurangi kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan c) meningkatkan ketergantungan jangka panjang. Sehingga dengan adanya, fenomena ini akan mempengaruhi sistem ketahanan pangan nasional.

Beberapa dekade ini, isu pangan nasional sering mengalami guncangan baik karena praktek perdagangan maupun karena isu perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi. Baru-baru ini, negara yang menjadi produsen kedelai seperti Amerika Serikat semakin hati-hati mengelola komoditi strategis akibat prediksi iklim kekeringan yang akan terjadi. Momentum ini merupakan suatu pembelajaran penting bagi Indonesia dalam merevitalisasi kemampuan produksi komoditi strategis yang dimiliki.

Beberapa permasalahan yang menyebabkan rendahnya produksi kedelai adalah:

  1. Menurunnya luas pertanaman dan luas panen kedelai.
  2. Masih rendahnya produktivitas kedelai yang dicapai, dimanadi tingkat petani produktivitas rata-rata kedelai hanya mencapai 13,78 kuintal/ha, sedangkan potensi produksi beberapa varietas unggul dapat mencapai 20,00– 35,00 kuintal/ha. Hal ini dikarenakan belum optimalnya penerapan teknologi spesifik lokal di lapangan.
  3. Adanya persaingan harga antar komoditi, dimana harga kedelai di tingkat petani cenderung rendah akibat dari membanjirnya kedelai impor dengan harga yang lebih murah menjadi penyebab utama berkurangnya minat petani menanam kedelai, sehingga beralih menanam tebu, padi dan jagung. Tahun 1992 kita swasembada kedelai, dimana harganya 1,5 kali lipat harga beras.
  4. Kepemilikan lahan petani kedelai mayoritas kecil/gurem (<0,5 ha)dan komoditi kedelai seringkali dijadikan pilihan terakhir bagi petani.

Bila dilihat dari perspektif waktu swasembada kedelai tahun 2014 yang hanya menyisakan 1 tahun pertanaman, diperlukan kerja keras untuk pencapaian produksi.

Sejalan dengan program Bali Ndeso Mbangun Deso, maka petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan, sekaligus juga memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup, dan harga yang terjangkau. Maka salah satu strategi peningkatan produksi kedelai tahun 2013 adalah dengan peningkatan produktivitas yang dilaksanakan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas sistem perbenihan kedelai, perbaikan teknik budidaya kedelai di tingkat petani, memperlancar penyediaan sarana produksi, modal dan teknologi, dan mempercepat adopsi paket teknologi melalui Sekolah Lapang- Penyuluh Tanaman Terpadu (SL-PTT) disertai pengawalan, sosialisasi, pemantauan, pendampingan dan koordinasi. Disamping itu baru-baru ini Pemerintah Pusat telah memutuskan untuk menambah tugas peran BULOG untuk menstabilkan harga melalui penetapan kuota impor agar harga terjaga sehingga menggairahkan petani dan perlunya tambahan lahan pertanian kedelai seluas 500.000 ha untuk swasembada kedelai.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan pengetahuan praktis dan keterampilan teknis para penyuluh pertanian dalam bidang pengelolaan tanaman terpadu kedelai maka diselenggarakanlah Diklat Fungsional Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai Bagi Penyuluh Pertanian.

Sebelumnya, Kasubid Diklat Teknis Pembangunan – Jaka Sunarya, SH, MM dalam laporannya menyampaikan bahwa Diklat Fungsional Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai Bagi Penyuluh Pertanian dilaksanakan selama 13 hari kerja mulai tanggal 4 s.d. 22 Maret 2013 bertempat di Kampus Diklat Sumbing (Unit II) Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah.

Adapum kurikulum diklat yang diikuti oleh 30 PNS yang berasal dari daerah sentra pengembangan kedelai, penerima pengembangna kegiatan APBD kedelai dan penerima kegiatan SLPTT kedelai secara keseluruhan berjumlah 128 Jam Pelajaran

- df
 
   
  Berita Lain :  
  » Kunjungan Observasi Lapangan Diklat Fungsional Berjenjang Bagi Widyaiswara Utama - Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan  
  » Observasi Lapangan Diklat Teknis Perencanaan Pembangunan Daerah  
  » Kegiatan Observasi Lapangan Diklat Teknis Pencatatan Sipil  
  » Observasi Lapangan Diklat Teknis Penanganan Penanggulangan Bencana  
  » Benchmarking Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan11 di Bogor  
  » Tim Evaluasi Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah melakukan kegiatan Evaluasi Pasca Diklat di Kota Tegal  
  » Seminar Proper Diklat Pim IV Angkatan 23 di Kabupaten cilacap  
  » Observasi Lapangan Diklat Fungsional Ubinan Tanaman Pangan dan Holtikultura di Ngawi, Jawa Timur  
  » Badan Diklat Menyelenggarakan Diklat Teknis Administrasi Kepegawaian  
  » Pembukaan Diklat Teknis Pengairan Tingkat Lanjutan dan Diklat Fungsional Penilaian Kesehatan KSP Konvensional Angkatan I  
  » Diklat Fungsional Ubinan Tanaman Pangan Tahun 2014 - Kabupaten Semarang  
  » Badan Diklat menyelenggarakan Diknis Manajemen Perencanaan Penanganan Bencana, Diknis Pencatatan Sipil, Diknis Perencanaan Pembangunan Daerah I dan Dikfung SL-PTT Tanaman Padi Bagi Penyuluh Pertanian II  
  » Seminar Karya Tulis Ilmiah : Pra Temu Ilmiah Pejabat Fungsional Widyaiswara  
  » Penutupan Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan 6, Diknis KLHS Angkatan 2, Diknis PATEN Angkatan 3 dan Dikfung OPT bagi PHP OPT Angkatan 2  
  » Penyelenggaraan Diklat Fungsional Ubinan Tanaman Pangan  
  » Cilacap : Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan 23  
  » Observasi Lapangan Diklat Teknis Peningkatan Kompetensi Pengelolaan Perkantoran Berbasis Teknologi Informasi Angkatan II  

 

 
 
samping.jpg
Diklatpim 2 Angkatan 2


551.740
 
©Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah 2014